<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000009637</controlfield>
    <controlfield tag="005">20221201110545</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-012000000009637</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="008">221201################j##########1#ind##</controlfield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Petualangan Embacang</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Azhari Zainuddin</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Bandung :</subfield>
      <subfield code="b">Remaja Rosdakarya,</subfield>
      <subfield code="c">2002</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">iv; 55 hlm :</subfield>
      <subfield code="b">ilus ;</subfield>
      <subfield code="c">21 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">979-692-194-4</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">398.2</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">398.2 AZH p</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Cerita Fiksi</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">300</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Bertahun-tahun, sepasang suami-istri menantikan kehadiran seorang anak, tetapi Tuhan belum juga mengabulkannya. Hingga suatu hari sang istri mengandung, betapa gembiranya kedua suami-istri itu. Namun begitu sang bayi lahir dari rahim sang istri yang keluar bukan seorang anak manusia melainkan sebiji embacang.&#13;
Sang istri merasa terpukul dengan kejadian itu. Namun, ketika ia melihat embacang itu tergolek di sisinya, naluri keibuannya bangkit. Kini, ia adalah seorang ibu dan ia harus menerima keadaan bayinya. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang ia merawat si Embacang, demikian nama anak itu.&#13;
Hari demi hari terus berlalu. Si Embacang semakin bertambah besar, walau ia tidak pernah makan karena tidak mempunyai mulut. Si Embacang pun tidak mempunyai mata dan telinga, tetapi ia bisa berbicara, melihat dan mendengar. Itulah kebesaran Tuhan. Setelah si Embacang dewasa, ia meminta izin kepada orang tuanya untuk merantau. Namun, orang tuanya melarang si Embacang pergi. Mereka berpikir, bagaimana mungkin si Embacang bisa hidup sendiri si negeri orang sedang ia tidak bisa apa-apa.&#13;
Tekad si Embacang sudah bulat, ia tetap ngotot dan merengek kepada orangtuanya. Akhirnya, orangtuanya mengizinkan ia pergi. Bagaimana nasib si Embacang selanjutnya? Sampaikah ia ke tempat yang di tujunya? Apa yang akan dihadapinya di negeri orang? Dapatkah ia bertahan hidup? Ikuti petualangan si Embacang yang seru, lucu dan menegangkan ini.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">15318</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">00000041753</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">00000041753</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">15318</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">00000041753</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">15318</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
