<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000018616</controlfield>
    <controlfield tag="005">20210607084748</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-0621000013</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="007">ta</controlfield>
    <controlfield tag="008">210607################g##########0#ind##</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">978-602-8545-14-3</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">351</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">351  WA r</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Wahyudi Kumorotomo</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Reformasi Aparatur Negara Ditinjau Kembali /</subfield>
      <subfield code="c">Dr. Wahyudi Kumorotomo, Dr. Ambar Widanimgrum (Editor)</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Yogyakarta :</subfield>
      <subfield code="b">Gava Media,</subfield>
      <subfield code="c">2010</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">xvi, 400 halaman :</subfield>
      <subfield code="b">Ilustrasi ;</subfield>
      <subfield code="c">15 cm x 23 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Administrasi Negara</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="700" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Ambar Widanimgrum</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Reformasi barangkali telah menjadi jargon yang usang. Sejak sepuluh tahun yang lalu, ketika gerakan reformasi berhasil menumbangkan rejin Orde Baru, kata reformasi hampir tidak pernah lowong sebagai diskursus publik. Reformasi diucapkan orang di mana-mana: di TV, radio, sekolah-sekolah, tema lagu, dan menjadi rasanan pada hajatan di pelosok-pelosok pedesaan. Namun demikian satu dasawarsa setelah gerakan reformasi berjalan tanda-tanda keberhasilan reformasi masih jauh dari harapan. Di sana-sini kualitas pelayanan publik masih memprihatinkan, kemiskinan masih membelit masyarakat, dan yang paling menyedihkan praktek korupsi makin mengganas. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah: apakah reformasi masih ada dan masih perlu sehingga buku ini masih antusias mengambil judul reformasi.</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">300</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
