<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<collection xmlns="http://www.loc.gov/MARC21/slim">
  <record>
    <leader>00000nam  2200000   4500</leader>
    <controlfield tag="001">INLIS000000000022152</controlfield>
    <datafield tag="990" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">00000042011</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="005">20221229012331</controlfield>
    <datafield tag="035" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">0010-1222000047</subfield>
    </datafield>
    <controlfield tag="007">ta</controlfield>
    <controlfield tag="008">221229################g##########f#ind##</controlfield>
    <datafield tag="020" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">978-623-5321-58-5</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="082" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">813</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="084" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">813 GRE s</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="100" ind1=" " ind2="#">
      <subfield code="a">Green Terra</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="245" ind1="1" ind2="#">
      <subfield code="a">Secarik Surat untuk Ayah :</subfield>
      <subfield code="b">Tak Lekang Waktu, Sepucuk Rindu Kusuratkan Untukmu</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="250" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Cetakan I</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="260" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Batam :</subfield>
      <subfield code="b">Kalana,</subfield>
      <subfield code="c">2021</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="300" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">vii; 233 hlm :</subfield>
      <subfield code="b">Ilus ;</subfield>
      <subfield code="c">20 cm</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="650" ind1="#" ind2="4">
      <subfield code="a">Novel</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="856" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">800</subfield>
    </datafield>
    <datafield tag="520" ind1="#" ind2="#">
      <subfield code="a">Ayah, tahukah? Aku juga ingin berbicara tanpa perasaan canggung. Selama ini. Entah kenapa, aku sama sekali tidak berani menyampaikan keinginan atau pendapat ku pada Ayah.&#13;
Maafkan aku juga, Ayah, karena saat duduk di bangku SMA, aku sebal setiap kali Ayah menatap sinis teman lelaki ku yang datang ke rumah.&#13;
Sampai-sampai aku dijadikan bahan candaan oleh teman-teman dan tidak ada yang berani bertamu lagi, padahal teman perempuan ku yang lain, ayahnya terlihat biasa saja. Malah cenderung ramah saat teman anaknya datang, meskipun dia lelaki.&#13;
Ayah, aku minta maaf, aku juga kesal karena waktu bermain bersama teman hanya sampai pukul 5.30 sore. Lewat dari jam itu, Ayah dan Ibu akan menelepon rumah temanku. Aku malu. Aku sudah SMA. Kupikir aku sudah besar, jadi tidak perlu ditelepon dan dimintai pulang seperti itu.</subfield>
    </datafield>
  </record>
</collection>
